Oknum Dokter RS Bhakti Husada Caci Maki Keluarga Pasien Diruang Rawat

Rumah Sakit (RS) Bhakti Husada, Jalan R.E. Marta Dinata Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Cikarang Utara, Djapos.com –  Ironis pelayanan Rumah Sakit (RS) Bhakti Husada yang beralamat di Jalan R.E. Marta Dinata, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dinilai buruk dalam memberikan pelayanan terhadap pasien.

Hal ini dikeluhkan oleh Tuniatun (52th) salahsatu keluarga pasien yang merasa dirinya diperlakukan tidak pantas oleh salah seorang oknum dokter yang bertugas pada waktu itu.

“Saya dibentak bentak dan di permalukan didepan umum. Padahal saya cuma tanya, anak saya sakit apa dokter ? namun dokter tersebut seperti orang yang sedang kesal terhadap saya,” ujar Tuniatun kepada djapos.com.

Lanjut Tuniatun, dia merasa sangat kecewa terhadap perilaku dokter spesialist anak yang biasa disapa dr. Reza tersebut. Dia telah mendapatkan perbuatan yang sangat tidak terpuji dan merasa terhina oleh ucapan yang tidak sepantasnya terlontar dari mulut seorang yang berprofesi sebagai dokter.

“Kejadian tersebut diucapkan didepan anak saya yang bernama Ratu Armelia Anabella. Dimana saat itu anak saya sedang dirawat diruang rawat inap yang kebetulan kamarnya juga sedang ramai. Dikarenakan banyaknya pasien yang dirawat dalam satu ruangan pada saat itu,” kata Tuniatun.

Dengan adanya kejadian tersebut, dirinya dikunjungi oleh pihak dari RS Bhakti Husada yang datang ke kediamannya. Pihak RS tersebut mencoba meluruskan persoalan yang terjadi.

“Kami dari pihak keluarga sangatlah kecewa dan menyayangkan, karena dokter yang diduga telah melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas dan telah membuat ketersinggungan terhadap keluarga saya kenapa tidak ikut serta dan meminta maaf kepada keluarga saya,” pungkasnya.

Saat dimintai keterangan, pihak RS Bhakti Husada Cikarang, melalui humasnya, Nova kepada djapos.com Selasa (27/2/2018) diruangannya mengatakan, bahwa dirinya selaku perwakilan dari RS telah berupaya mendatangi rumah pasien atas nama Ratu Armelia Anabella di kampung Tanah Baru RT 02 RW 02 Desa Karang Baru Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Jawa Barat pada minggu (25/02/2018) pukul 20.00 WIB.

“Pihak rumah sakit, sesegera mungkin mendatangi keluarga pasien yang baru saja pulang dari rawat inap. Tujuannya adalah untuk meluruskan suatu permasalahan dengan cara ke keluargaan. Kami juga disambut baik oleh pihak keluarga, namun saya sendiri tidak bisa menjanjikan sesuatu hal kepada keluarga pasien. Karena persolan ini juga sudah saya sampaikan dan saya kembalikan lagi kepada Wakil Direktur Pelayanan Medis (Wadiryanmed-red),” jelas Nova.

Secara terpisah, Ketua Lembaga Komunitas Pengawas Korupsi (L-KPK) Kabupaten Bekasi, Anwar Soleh mengatakan kepada djapos.com diruang kerjanya, bahwa sikap dari dr. Reza itu jelas tidaklah pantas.

Apalagi dia itu seorang dokter spesialist anak yang seharusnya memiliki sikap ramah terhadap pasiennya. Perbuatan itu jelas bisa menimbulkan efeck negatif karena pasien sendiri ikut melihat dan menyaksikan langsung pertikaian adu mulut dan ucapan yang dilontarkan oleh dokter Reza.

“Tentu hal seperti itu jelas melanggar kode etik seorang dokter. Seharusnya profesi seorang dokter itu memberikan keterangan dan juga penjelasan yang sangat detail yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, karena adik kita ini kan juga manusia lhoo,” terang Anwar kepada djapos.com.

Dengan adanya Kejadian seperti ini, maka kami dari Lembaga Komunitas Pengawas Korupsi (L-KPK) akan menyampaikan surat kepada Direktur Rumah Sakit Bhakti Husada dan juga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bekasi, agar perbuatan dokter tersebut mendapatkan sanksi serta menjadi perhatian buat para dokter yang lain.

Sehingga dikemudian hari tidak ada lagi peristiwa yang tidak mengenakkan seperti yang dialami oleh ibu Tuniatun.

“Dan semoga saja para dokter yang ada di negeri ini dapat menjungjung tinggi etika dan juga estetika dalam memberikan pelayanan kepada pasiennya. Karena hak-hak pasien juga tertuang dalam undang undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 53 (2) hak atas informasi,” tutur Anwar.

 

Reporter : R4Y

Foto : dok/DJP/R4Y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *