Proyek Pemagaran Makam Keramat Menuai Banyak Pertanyaan

“Kades Karang Anyar Kab Bekasi Angkat Bicara “

Kepala Desa (Kades) Karang Anyar Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, Arnih Aryani, S.Pd.I.

Karangbahagia, Djapos.com – Proyek pemagaran makam bersejarah Raden Mangku Nagara atau yang lebih dikenal dengan Buyut Kaifah, diterpa adanya isu tidak sedap tentang indikasi tindak pidana korupsi.

Isu tersebut mulai muncul dikarenakan Kepala Desa (Kades) Karang Anyar Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi tidak transparan dalam penggunaan dana Desa, baik yang bersumber dari APBN-APBD maupun bantuan dari Provinsi. Sehingga banyak yang beropini dana Desa tersebut tidak tepat sasaran bahkan diduga telah dikorupsi oleh Kades.

Menurut beberapa orang sumber yang menjelaskan kepada djapos.com, bahwa makam keramat yang terletak di jalan Buyut Kampung Pulo Pisang RT. 006 RW. 003 Desa Karang Anyar, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi tersebut bukan dari dana Desa. Namun pekerjaan proyeknya dikerjakan oleh pihak pengembang yang pada saat itu memang memiliki kepentingan untuk membuat proyek perumahan.

“Keberadaan lokasi proyek perumahannya memang berada disamping Makam Keramat tersebut,” ujar salah seorang sumber yang minta namanya untuk dirahasiakan.

Demi mencari kebenaran tentang adanya isu itu, tim djapos.com pada minggu (22/7/2018) mencoba menyambangi kediaman Kades Karang Anyar, Arnih Aryani, S.Pd.I, guna mencari kejelasan bagaimana kronologi yang sebenarnya.

Kepada djapos.com Kades Arnih memaparkan, bahwa proyek untuk pemagaran Makam Keramat yang meliputi pintu gerbang dan gapuranya, pondasi serta saluran air berikut taman di depannya memang merupakan proyek milik Desa dari dana Desa yang bersumber APBN 2015.

“Memang proses awal pekerjaan proyek tersebut sempat di stop oleh seseorang yang mengaku dari ormas dan juga LSM, karena mereka beranggapan proyek pemagaran tersebut milik pengembang,” jelasnya lagi.

Untuk anggarannya, lanjut Arnih, kurang lebih seratus jutaan rupiah. Sementara untuk teknisnya, saya hanya menyerahkan dananya saja. Dimana penggunaan data tersebut untuk dibelanjakan kebutuhan material kepada pihak pengembang, setelah itu tukang kita yang mengerjakannya

“Jadi tidak mungkin saya berani mengklaim kalau tidak ada dasarnya. Bukti pernyataan tertulis dari pihak pengembang juga masih saya simpan,” pungkas Arnih kepada djapos.com.

Bukti pernyataan tertulis dari pihak pengembang.

 

Reporter : R4Y

Foto : dok/DJP/R4Y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *