Lapas Cikarang Tingkatkan Pengawasan, Perubahan Orientasi Seksual Napi Tak Luput dari Perhatian

Kepala Lapas Cikarang, Kadek Anton Budiharta.

Cikarang Pusat, Djapos.com – Lembaga Pemasyarakatan Kelas III B Bekasi (Cikarang) memperketat pengawasan pasca terungkapnya praktik jual beli fasilitas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Lapas Sukamiskin, Bandung. Meski tidak dihuni Narapidana (Napi) kelas kakap, namun potensi pelanggaran di semua lapas relatif serupa.

Kepala Lapas Cikarang, Kadek Anton Budiharta mengatakan, penawaran sejumlah uang maupun pemberian terjadi di hampir seluruh Lapas, termasuk di Cikarang. Namun penawaran tersebut tidak akan berlaku pada petugas yang memiliki integritas tinggi.

“Pemberian dengan bentuk apapun agar mendapat hal yang lebih itu terjadi di setiap Lapas. Semua Napi, jika memiliki uang dan kemampuan, pasti menginginkan hal yang lebih, baik soal fasilitas maupun hal lainnya, tapi kami melakukan pengawasan terkait hal tersebut. Dapat dipastikan penambahan fasilitas dan sebagainya tidak ada di Lapas Cikarang,” kata dia, Jumat (27/7/2018).

Lanjut Kadek, peningkatan pengawasan pun dilakukan terhadap barang yang masuk dan keluar, seperti halnya barang elektronik, telepon genggam hingga narkoba.

“Narkoba ini menjadi perhatian kami juga karena banyak Napi di sini yang berasal dari kasus narkoba. Maka dari itu pengawasan ketat dilakukan. Sudah sejak lama, setiap dua hari sekali atau seminggu tiga kali kami lakukan razia rutin untuk memastikan tidak ada barang yang dilarang masuk, termasuk narkoba,” ujarnya.

Masih menurut Kadek, sebenarnya selain potensi gratifikasi, yang menjadi persoalan di Lapas yakni pemenuhan kebutuhan biologis para Napi. Padahal, pemenuhan kebutuhan hubungan suami istri para Napi terbilang penting.

Hanya saja, selama ini persoalan tersebut tidak terfasilitasi karena tidak diatur dalam regulasi. Alhasil, karena kebutuhan biologis tidak terpenuhi, praktik penyalahgunaan izin keluar hingga penggunaan ruang khusus untuk bertemu dengan suami atau istri terjadi.

“Ini sebenarnya menjadi persoalan. Jika di lapas-lapas di luar negeri, persoalan ini diatur dalam undang-undang. Tapi di kita, memang belum ada aturannya. Padahal keluhan terkait pemenuhan kebutuhan biologis ini selalu disuarakan para Napi,” ujarnya.

Diungkapkan Kadek, persoalan biologis ini menjadi keluhan yang paling banyak disampaikan para napi. Bahkan melebihi keluhan tentang fasilitas yang ada.

“Karena memang Napi di sini bukan pejabat atau seseorang yang biasa hidup bermewahan, maka fasilitas bukan menjadi soal. Justru persoalan (biologis) ini yang sering dikeluhkan. Kami setiap bulan rutin menggelar sesi curhat bagi para napi, curhatan paling banyak ya tentang kebutuhan biologis ini,” ucap dia.

Persoalan pemenuhan kebutuhan biologis ini, lanjut Kadek, harus menjadi perhatian serius. Soalnya, akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi dikhawatirkan menimbulkan masalah baru, salah satunya perubahan orientasi seksual.

“Karena akibat lama tidak berhubungan dengan pasangan, orientasi seksualnya berubah. Karena lama tidak melihat lawan jenis, ke sesama jenis pun timbul rasa suka. Dikhawatirkan pula menular, Ini bukan tidak mungkin,” kata dia.

Di Lapas Cikarang, Kadek mengakui menerima sejumlah laporan terkait adanya perubahan orientasi seksual Napi. Tindakan berbeda pun dilakukan terhadap mereka yang menjadi suspek.

“Pengawasan kami lakukan terhadap mereka yang diduga mengalami perubahan orientasi. Kami juga lakukan langkah dengan cara ditempatkan bersama napi yang berbeda. Jangan sampai ditempatkan, misalnya dengan napi yang dapat membuat dapat dia justru suka atau tertarik,” ucap Kadek.

 

Reporter : RZ

Foto : dok/DJP/RZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *