Pemilik Tanah Sering Diganggu, Kuasa Hukum Pasang Plang

Keterangan gambar : Alih Waris, M. Nafis (sedang memegang surat), Kuasa Hukum, Mustika Sani, SH. MH ( baju batik), Sirepa Karepesina, SH (pakai topi) dan Direktur Eksekutif LSM-PELOPOR, Marao S Hasibuan (peci merah).

Jakarta, Djapos.com – Kuasa Hukum dari M. Nafis Bin H. Asmuni Bin H. M. Zen selaku Penggugat tanah seluas kurang lebih 4.450 M2, akhirnya memasang plang pemberitahuan publik mengenai status tanah itu secara terbuka. Hal ini bertujuan agar tanah tersebut tidak kembali diganggu/dikuasai/digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab dengan berbagai cara yang melawan hukum.

Tanah yang telah dipasangi plang tersebut berlokasi di huk ujung jalan, tepatnya pertigaan lampu merah Jl. Raya TMP Kalibata dan Jl. Raya Pasar Minggu RT. 006 RW. 007 Kelurahan. Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Menurut Team Pamsus 33 LSM-Pelopor, selaku kuasa hukum M. Nafis Bin H. Asmuni Bin H. M. Zen (Penggugat), sudah cukup lama menanti i’tikad baik dari pihak yang mengaku-ngaku sebagai pemilik tanah yang diduga menggunakan “Surat Bodong” untuk mengembalikan tanah tersebut.

Selain itu juga dengan pertimbangan lain dimana atas nama Aminah selaku Tergugat I dipanggil dengan patut dua kali berturut-turut untuk hadir dipersidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak datang.

“Penggugat yang sudah tua dan sakit-sakitan sangat terganggu. Karena sudah beberapa kali rumahnya didatangi oleh pihak yang mengaku sebagai “Calon Pembeli” yang disinyalir dari pihak yang ingin kembali menguasai tanah,” papar Mustika Sani, SH. MH Juru Bicara Kuasa Hukum Alih Waris, M. Nafis di lokasi pemasangan plang, Rabu (08/8/2018).

Masih menurut Mustika, mungkin mereka tahu dalam persidangan Tergugat I tidak hadir dua kali  berturut-turut, namun yang hadir hanya Tergugat II dan Tergugat III. Padahal keduanya (Tergugat II dan Tergugat III) dalam persidangan sebelumnya dengan Objek Perkara yang sama sudah dikalahkan oleh Tergugat I. Dan hal itu bisa saja disimpulkan oleh mereka siapa Pemilik Sah tanah tersebut.

Mustika Sani juga menegaskan, bahwa semua seharusnya paham kalau obyek yang sedang dalam proses berperkara di Pengadilan tidak boleh diperjual belikan.

“Kalau bicara baik-baik dengan kita selaku Kuasa Hukum, hal itu akan terang benderang semuanya. Kita percaya dan menghormati hukum dan wajib mentaati semua proses persidangan sampai selesai. Selain itu juga harus bisa menjaga/melindungi Objek Perkara, sebab ini kewajiban dan jadi tanggung-jawab kita termasuk lingkup Non-Litigasi.” tegasnya lagi.

Apalagi setelah kita kaji, lanjutnya, dengan seksama berdasarkan yuridis formal dan legalitas formal Objek  Perkara absah milik Principal kita. Mengenai Putusan Pengadilan tentu kita serahkan dan kita percayakan sepenuhnya kepada Majelis Hakim yang menangani Perkara tersebut. Makanya, kita pasang Plank dgn tujuan itu

Sementara ditempat yang sama, Koordinator Tim Kuasa Hukum, Sirepa Karepesina, SH, turut pula menuturkan bahwa sepanjang pengalamannya menangani perkara kepemilikan tanah, datangnya “Calon Pembeli” kepada Principal yang sebenarnya hanya bertujuan mengganggu. Baik itu dengan cara membujuk, mengiming-imingi, bahkan terkadang menakut-nakuti  pemilik yang sah. Begitulah salahsatu modus untuk mengganggu jalannya proses persidangan perkara tersebut. Oleh karena itu, untuk menjaga, melindungi dan mengumumkan status tanah, maka layak di pasang Plang.

“Menurut rencana, sambil menunggu selesainya proses Persidangan, lokasi tersebut akan dipergunakan oleh warga untuk kegiatan Perayaan HUT RI, Bazar dan kegiatan terkait Idul Adha, serta kegiatan Sosial Ekonomi lainnya yg bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” jelas Sirepa.

 

Sedangkan M. Nafis sebagai Alih Waris, saat diwawancarai Wartawan menuturkan, bahwa tanah yang terletak di di huk ujung jalan, tepatnya pertigaan lampu merah Jl. Raya TMP Kalibata dan Jl. Raya Pasar Minggu RT. 006 RW. 007 Kelurahan. Duren Tiga, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, merupakan tanah orang tuanya yang bernama Asmuni.

Menurutnya, dulu di lahan itu pohon karet semua, malah dialah yang sudah membabat/memotong pohon-pohon yang tumbuh disitu. Sehingga dia jadi heran, kenapa sekarang ada orang yang mengklaim sebagai pemilik. Malah sampai saling menggugat, antara Aminah (Tergugat I) vs Tjong Agus Suryadi (Tergugat II) yang lalu kemudian di menangkan oleh Aminah.

“Iya memang banyak yang mendatangi saya. Mengiming-imingi duit, untuk membeli tanah tersebut. Malah lusa nanti (Jum’at), ada yang mengajak saya ke Notaris untuk membuat Akta Jual Beli (AJB),” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Eksekutit LSM-Pelopor, Marao, S. Hasibuan, sebagai Kuasa untuk memasuki, menduduki dan menempati tanah Alih Waris M. Nafis. “LSM-Pelopor tengah melakukan koordinasi dengan  RT, RW dan Kelurahan setempat untuk melakukan kegiatan masyarakat dalam menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke-73,” kata Marao.

Berdasarkan pantauan Team LSM-Pelopor, jalannya proses persidangan perkara tersebut di Pengadilan Negeri Jaksel, memang Tergugat I ataupun Kuasa Hukumnya dapat dikatakan tidak pernah hadir dalam persidangan.

Selain Alih Waris, Kuasa Hukum Alih Waris, Pengurus LSM-Pelopor, tampak pula hadir Ketua RT 006 Yahya dan Fuad penjaga tanah sengketa tersebut. Sehingga pemasangan plang pun, dapat berjalan dengan tertib, aman dan lancar.

 

Reporter : GFT

Foto : dok/DJP/ED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *