Selain Lulusan Hukum, Orang Tua yang Menjadi Panutan Alasan Wanita Ini Jadi Jaksa

Cikarang Pusat, Djapos.com – Banyak profesi yang bisa digeluti para mahasiswa dan mahasiswi jurusan hukum usai lulus kuliah, salah satunya adalah menjadi jaksa. Jaksa adalah pejabat fungsional yang dituntut punya performa bagus serta profesional terutama dalam menangani setiap perkara.

Dalam menangani setiap perkara, jaksa juga dituntut menjalankan undang-undang yang berlaku meski terkadang tidak beriringan dengan hati nuraninya, terlebih lagi bagi seorang jaksa perempuan.

“Kesan menjadi jaksa yaitu seru dan menantang, karena ada konflik batin juga. Contohnya dalam menentukan mengambil keputusan perkara anak yang paling berkonflik dengan batin atau hati nurani,” kata Kasubsi Ekonomi Keuangan Moneter dan Tim Pengawal Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Intelejen Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, Yessi Puspita Asuki, Jumat (26/4/2019).
 
Menurut Yessi meski ada konflik dengan hati nurani, seorang jaksa tetap harus mengutamakan undang-undang dalam mengambil keputusan sesuai dengan visi kejaksaan Republik Indonesia yaitu menjadi lembaga penegak hukum yang Professional, Proporsional dan Akuntabel.

“Kami menjalankan undang-undang. Selain melihat undang-undang beriringan dengan hati nurani. Dalam melaksanakan tugas jaksa harus didasarkan atas nilai luhur Tri Krama Adhyaksa serta berpegang teguh pada aturan serta kode etik profesi yang berlaku,” ucapnya.

Masih kata Yessi, dalam melaksanakan tugas dan fungsinya seorang jaksa selalu memakai semboyan yakni menyeimbangkan yang tersurat dan tersirat dengan penuh tanggungjawab, taat azas, efektif dan efisien serta penghargaan terhadap hak-hak publik.

“Kinerja jaksa harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar wanita yang menjadi jaksa sejak September 2016 ini.

Yessi menuturkan, keinginan dirinya menjadi seorang jaksa tidak terlepas dari jurusan pendidikan yang ia pelajari serta faktor orang tua yang juga merupakan seorang jaksa.

“Selain keinginan sendiri ada peran orang tua yang menjadi panutan dan saya juga lulusan hukum. Selain itu saya juga mempunyai keinginan bagaimana supaya jaksa menjadi lebih baik lagi,” ujar Yessi.

Wanita muda yang sudah 8 bulan bertugas di Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi ini juga mempunyai beberapa prestasi dalam menjalankan tugas sebagai seorang jaksa.

“Saya pernah memenangi gugatan penyelamatan aset milik negara yaitu aset Istana Tampak Siring di Gianyar, Bali melawan keluarga yang mengaku sebagai ahli waris,” katanya.

Sementara untuk di Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi sambung Yessi, beberapa program-program jaksa telah ia jalankan seperti program jaksa menyapa, jaksa masuk sekolah, jaksa jaga desa, jaksa sahabat guru dan jaksa sahabat dokter.

“Kami intens sosialisasi ke masyarakat, karena masih banyak yang belum tau jaksa itu apa. Seperti sosialisasi di sekolah mulai tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas,” tutupnya.

Rz-Djapos.com

Editor: Rz

Foto: Rz/Djapos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *