Kekeringan Dirasakan Juga Pesantren di Cikarang, Cecep Noor: Menimpa Anak-anak yang Sekolah Bukan Hal Baik, Jangan Terjadi Pembiaran 5/5 (3)

Kabupaten Bekasi. Djapos.com – Dampak kekeringan di Kabupaten Bekasi dirasakan juga oleh salah satu pesantren di Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi. Seperti di pesantren Darul Ikhlas yang dihuni oleh 186 siswa dan 50 orang tenaga pendidik beserta keluarganya. Tiap musim kemarau tiba, sumur yang biasa digunakan menjadi sumber air di pesantren yang diresmikan sejak tahun 2010 tersebut mengering hingga pihak pesantren kesulitan mencukupi kebutuhan air.

Ketua Yayasan Darul Ikhlas, Zaenal Abidin mengatakan, kekeringan kerap berlangsung setiap tahun saat memasuki musim kemarau. Dampak dari kekeringan itu pihaknya terpaksa harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk memasak, mandi hingga berwudhu. Karena jumlah air yang dibutuhkan banyak, pihak pesantren bahkan harus mengeluarkan dana hingga Rp 80 juta hanya untuk membeli air.

 “Pernah pas air lagi sedikit, terpaksa yang ke mau ke air antre. Tapi tidak sampai harus tayamum, karena langsung beli. Dari hasil hitungan, untuk beli air sampai Rp 60-80 juta. Karena kan kebutuhan air itu per hari sampai 23.000 liter per hari. Sekali beli itu dua sampai tiga mobil tanki yang isinya 8.000 liter. Per mobil itu harganya Rp 350.000. terkadang sampai rebutan kalau beli,” kata dia, Selasa (16/7/2019).

Diungkapkan Zaenal, kekeringan itu terjadi karena kandungan air di dalam tanah tidak mencukupi. Bahkan, untuk memeroleh air, pengeboran sumur harus mencapai kedalaman 150 meter. “Pernah dicoba 150 meter tapi airnya asin. Jadi tidak terpakai,” ujarnya.

Zaenal sempat mencoba mengajukan pemasangan pipa pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bhagasasi. Namun, karena di wilayah tersebut belum terpasang jaringan air, maka pemasangan pun memerlukan biaya besar.

“Akhirnya kami lapor ke DPRD Kabupaten Bekasi, minta dibantu sama Bapak Dewan Cecep Noor. Akhirnya dibantu dan bisa dipasang,” ucap dia.

Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Cecep Noor membenarkan kondisi kekeringan yang meluas. Bahkan, Cecep mengaku tidak sedikit menerima keluhan dari warga yang kekurangan air. Untuk itu, Sekretaris Komisi III ini mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi mengambil langkah nyata agar kekeringan tidak semakin meluas.

“Segera lakukan tindakan nyata, kemudian kemarin yang dianggarkan sampai Rp 80 miliar buat apa diajukan kalau tidak digunakan. Ini pun pesantren kami turut bantu karena bentuk nyata dari kekeringan. Menimpa anak-anak kita yang lagi sekolah tentu bukan hal yang baik. Jangan terjadi pembiaran,” ucap dia.

Menurut dia, upaya penanggulangan dengan cara mengirimkan air tidak lagi efektif karena kekeringan telah meluas. “Kalau armadanya banyak tidak masalah, tapi kan armada pengangkut air terbatas dan jumlah personel pun terbatas. Jadi kalau kekeringan di mana-mana, tetap tidak terlayani. Saya mendesak agar ambil langkah berkesinambungan,” katanya.

Kepala PDAM Tirta Bhagasasi Cabang Cikarang Selatan, Ece Sumantri mengakui, kandungan air di dalam tanah di Cikarang Selatan tidak maksimal. Selain sulit didapat, kualitasnya pun tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. “Jadi memang dari hasil pemantauan kami, kondisi alamnya memang demikian,” ujarnya.

Ece mengatakan, saat ini pihaknya masih terus meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk cakupan jaringan air. Soalnya, hingga kini dari sekitar 340.000 penduduk, yang baru terlayani baru sekitar 45 persen.

“Itu untuk dua kecamatan, yakni Cikarang Selatan dan Cikarang Pusat. Namun, memang kalau untuk mencakup seluruh wilayah masih belum. Padahal memang penting bagi masyarakat yang sedang dilanda kekeringan. Namun perlu pemasangan infrastruktur baru, serta didirikan stasiun air. Tapi itu dikembalikan pada perushaan dan pemerintah selaku pemilik saham,” kata Ece.

Rz – Djapos.com
Editor: Rz
Foto: Rz/Djapos.com

Please rate this

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *