Tanpa Kursi dan Meja, Murid SDN Jatimulya 1,5 Tahun Belajar “Ngedeprok” 5/5 (2)

Kabupaten Bekasi, Djapos.com – Murid sekolah dasar negeri (SDN) Jatimulya 09 Tambun Selatan belajar tanpa kursi dan meja. Mereka terpaksa menuntut ilmu dengan duduk di lantai. Parahnya hal itu harus mereka rasakan selama satu setengah tahun.

Salah satu guru SDN Jatimulya 09, Supono mengatakan dari delapan ruang kelas yang ada, sebanyak tiga ruang kelas tidak mempunyai kursi dan bangku. Proses belajar dan mengajar di lantai terjadi pasca adanya pembangunan ruang kelas baru (RKB).

”Pembangunan gedung kan diselesaikan akhir tahun 2017, awal tahun 2018 kami sudah gunakan. Sejak itulah siswa belajar ‘ngedeprok’ (duduk di lantai). Sebenarnya ironi juga, namun yang terpenting bagi kami proses belajar mengajar masih tetap berjalan dengan maksimal,” kata Supono, kepada wartawan, Senin (16/9/2019).

Ia menjelaskan, dari 19 rombongan belajar, sebanyak lima rombongan belajar harus belajar di lantai. Menurutnya pihak sekolah sudah berupaya memaksilkan pemanfaatan ruang yang ada dengan membagi jam belajar pagi dan siang.

“Untuk pagi, ada tiga rombongan belajar yang belajar di lantai. Kalau siang (yang belajar di lantai) ada dua rombongan belajar,” ucap dia.

Belum lama ini kata Supono, pemerintah daerah telah mengirim sekitar ratusan meja. Meski demikian meja tersebut tidak disertai dengan kursi. Lantaran tidak ada kursinya meja tersebut saat ini hanya terpampang di teras ruang kelas.

“Sekitar seminggu yang lalu mejanya datang. Kami juga belum berani menggunakan karena belum ada serah terima barang. Selain itu kursinya juga nggak ada,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Carwinda berjanji akan secepatnya menyelesaikan persoalan mebeler di SDN Jatimulya 09.

“Nanti akan turun semua (mebelernya). Insya Allah tahun ini selesai. Ya sabar duhulu kan sekarang belum lengkap jadi belum ada serah terima barang,” kata Carwinda saat dihubungi, Senin (16/9/2019).

Menurut dia, tidak adanya mebeler di SDN Jatimulya 09 lantaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan (PUPR) melaksanakan pekerjaan yang kurang maksimal. ”Kala itu kana ada kesepakatan, ketika ada pembangunan ruang kelas baru dibarengi pengadaan mebeler. Sehingga satu kegiatan dilaksanakan Dinas PUPR, namun realisasinya tidak maksimal. Jadi Dinas Pendidikan lagi yang menyelesaikan,” kata dia.

Rz – Djapos.com
Editor: Rz
Foto: And

Please rate this

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *