Status Tanggap Darurat Dicabut, Pemkab Bekasi Pastikan Penanganan Banjir Terus Dilakukan

Kabupaten Bekasi, Djapos.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi resmi mencabut status tanggap darurat. Penurunan status ini seiring dengan mulai surutnya banjir di sejumlah wilayah. Namun demikian penanganan terhadap titik yang masih terendam banjit masih terus dilakukan.

Untuk diketahui, sebelumnya Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari pada pekan lalu.

“Tanggap darurat resmi tidak diperpanjang karena banyak daerah yang mulai surut. Status tanggap darurat sendiri ditetapkan bilamana 50 plus 1 wilayah terkena bencana, termasuk fasilitas umum yang tidak bisa digunakan hingga mengganggu aktivitas warga secara keseluruhan. Sedangkan saat ini kondisinya sudah kondusif,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Muhammad Said, Selasa (3/2/2020).

Said mengatakan, meski tidak lagi berstatus tanggap darurat Pemkab Bekasi tetap bersiaga menanggulangi bencana banjir. Menurutnya, penanganan kesejumlah titik banjir masih tetap dilakukan pihaknya.

“Fokusnya pada penanggulangan. Meski saat ini sudah tidak lagi tanggap darurat, petugas tetap bersiaga dengan dibantu kepolisian, TNI dan juga para relawan dan komunitas,” ucapnya.

Saat ini, kata dia, sebenarnya banjir masih terjadi di beberapa wilayah namun cenderung surut. Masih terdapat di empat kecamatan yakni Muaragembong, Babelan, Pebayuran dan Setu. Tinggi permukaan banjir di lokasi tersebut antara 20-80 sentimeter.

“Hari ini ada delapan kecamatan sebetulnya tapi empat sudah surut tinggal empat lagi. Dan kami harapkan seluruhnya bisa surut karena intensitas hujan sudah cenderung menurun. Kendati begitu, petugas kami tetap kami siagakan di lokasi,” ujarnya.

Sedikitnya terdapat dua titik yang kini masih dalam pantauan lebih,yakni di Setu dan Pebayuran.

“Setu tadi (kemarin) pagi sudah kami evakuasi dan bantuan logistik sudah dikirim. Kemudian di Pebayuran tidak bisa dimasuki kendaraan karena terisolasi jadi kami gunakan perahu untuk bantuan logistik,” ucap dia.

Sementara itu, secara keseluruhan 13.771 kepala keluarga terdampak banjir besar jilid II ini. Jumlah warga terdampak itu dihitung dari pekan ketiga Februari hingga awal Maret 2020.

Dalam kurun waktu lebih dari dua minggu itu, banjir tercatat merendam 98 titik di 41 desa yang tersebar di 20 kecamatan. Pada banjir besar jilid II ini, hampir seluruh wilayah Kabupaten Bekasi terendam.

Rz-Djapos.com
Editor: Rz
Foto: Humas Pemkab Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *