FPII Kecam Oknum Anggota DPRK Aceh yang Ancam Wartawan

IMG_20170413_122144
Salahsatu aksi Forum Pers Independent Indonesia (FPII) saat melakukan Aksi Demo ke Dewan Pers, yang selama ini tidak perhatikan nasib Wartawan/Jurnalis.

 

Aceh, Djapos.com – Sepertinya cerita penganiayaan terhadap wartawan/jurnalis tidak pernah berhenti. Hal ini kembali terjadi dan dialami oleh Iskandar (41) seorang wartawan Mingguan Pikiran Merdeka, yang mendapatkan ancaman dari Muzakir oknum anggota DPRK Aceh Timur, Rabu (07/06/2017) kemarin.

Ancaman tersebut diduga karena adanya pemberitaan yang dimuat oleh media cetak mingguan yang bersangkutan dengan judul Asmara Gelap Pak Dewan Berbuntut Panjang pada tanggal 05 Juni 2017, halaman.

Iskandar (41) warga Dusun T. Banta, Desa Gampong Jalan, Kecamatan Idi Rayeuk itu menceritakan kepada para awak media, bahwa sekitar pukul 14.30 WIB, dirinya baru pulang dari Kantor Setdakab, tiba-tiba Muzakir menelpon dirinya sambil berkata ‘Pat Kah’ (hingga berkali-kali).

“Saya jawab mau kembali ke rumah namun Muzakir menyuruh saya agar pergi ke rumahnya dengan maksud untuk menyelesaikan permasalahan yang berawal dari pemberitaan Muzakir dan dimuat dalam surat kabar mingguan ‘Pikiran Merdeka’,” kata Iskandar.

Selanjutnya, Iskandar Kembali dihubungi oleh Muzakir dan mengatakan ‘kenapa tidak sampai-sampai, apa mau saya bakar mobilmu?’. Bukan hanya itu saja, Iskandar juga mengatakan kalau Muzakir terus menerus menghubungi dirinya sambil mengeluarkan ancaman.

“Selain mengancam membakar mobil, Muzakir juga beberapa kali datang ke rumah. Terus terang membuat resah dan saya serta keluarga terancam,” bebernya.

Karena merasa terancam, akhirnya Iskandar mendatangi Polsek Idi Rayeuk untuk melaporkan pengancaman yang dilakukan Muzakir, oknum anggota DPRK Aceh Timur yang merupakan warga Desa Titi Baro, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

“Ia, sudah saya laporkan ke Polsek Idi Rayeuk,” kata Iskandar melalui telepon seluler, Rabu (07/06/2017).

Wesly H Sihombing selaku Ketua Deputi Advokasi Setnas Forum Pers Independent Indonesia (FPII).

Usai buat laporan di Polsek, Iskandar pulang ke rumah. Tak lama di rumah, tiba-tiba Muzakir datang mengunakan sepeda motor dan helm lalu berkata, ‘ayok ke rumah saya, kita selesaikan persoalan ini di depan keluarga saya’.

“Namun saya tidak mau dengan ajakan tersebut, lalu kata saya, bila ada yang kurang terhadap pemberitaan tersebut maka beri hak jawab,” kata saya lagi kepada Muzakir.

Setelah itu dengan nada emosi Muzakir menggenggam tangan Iskandar sebanyak dua kali untuk mengajak kerumahnya namun Iskandari langsung menarik tangannya. Tak lama setelah itu, Muzakir mencekik lehernya dan spontan Iskandar menarik lehernya kembali.

“Sekarang saya masih di Polsek Idi buat melengkapi laporan. Saya tidak terima atas perlakuan kasar seorang anggota dewan yang terhormat kepada saya di depan anak dan istri saya dengan mencekik leher saya,” demikian ungkap Iskandar. 

Menanggapi apa yang menimpa Iskandar, Wesly H Sihombing selaku Ketua Deputi Advokasi Setnas Forum Pers Independent Indonesia (FPII) mengatakan, bahwa selama hukuman yang dikenakan kepada para pelaku penganiayaan terhadap wartawan tidak maksimal, maka kasus-kasus serupa akan terus terjadi. 

“Kepada para Insan Pers yang mengalami kekerasan saat melaksanakan peliputan maupun dalam hal pemberitaan dapat menempuh jalur hukum, tidak hanya dengan kata MAAF persoalan jadi selesai.. hal ini agar menjadi efek jera bagi yang lainnya,” Tegas Wesly.

Selain itu, Wesly juga berharap agar oknum DPRK tersebut yang seharusnya menjadi panutan dimasyarakat tidak usah dipilih lagi menjadi anggota dewan di masa mendatang.


Reporter : Eddie, DA, FPII Aceh

Foto : dok/DJP/FPII

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *