Akibat Diserang Hama, Petani Kutawaluya Merugi

Kondisi sawah yang kering dan gagal panen di Desa Sindang Mukti, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang.

Karawang, Djapos.com –  Petani asal Kampung Bodeman Oyib Desa Sindang Mukti, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang mengeluh dengan kondisi gagal panen. Betapa tidak, panen musim sekarang mereka menderita kerugian, karena hasil panen tidak sesuai harapan. Hal ini dikarenakan dengan mewabahnya hama wereng yang mengakibatkan tanaman padi mereka kering.

Dasip, salah seorang petani yang sedang panen mengatakan, biasanya untuk hasil panen bisa menghasilkan 6 ton per hektar. Namun sekarang maksimal hanya 2 ton, bahkan ada yang cuma 2 kwintal perhektar dan juga yang lebih miris lagi tidak ada sama sekali. 

“Disamping itu banyak tumbuhnya pohon padi yang zonk yaitu tanaman padi yang ketika dalam masa tanam tumbuh bagus. Tetapi setelah besar masa berbuah malah tersendat tumbuh kembangnya sehingga tidak berbuah dengan baik,” ujar Dasip.

Salah seorang warga lainnya, Okay yang juga Ketua RW setempat menyatakan, bahwa pemerintah harus turun tangan dan berharap asuransi pertanian akan diturunkan sesuai dengan janji pemerintah.

“Apabila terjadi kegagalan panen pemerintah akan memberikan ganti rugi,” kata Okay.

Pa Kosaeri, Kabag Umum Desa Sindang Mukti besera staff.

Ketika dikonfirmasi pihak pemerintahan Desa, Kosaeri, Kabag Umum Desa Sindang Mukti membenarkan terjadinya kegagalan panen yang luasnya puluhan hektar. Kosaeri juga mengharap kan kepada pemerintah untuk masa tanam yang akan datang memberikan bantuan pupuk dan obat-obatan bersubsidi kepada petani melalui Gabungan Kelom pok Tani (Gapoktan ).

“Dan berharap kepada pihak Penyuluh Pertani an Lapangan (PPL) dapat bekerja dengan makaimal dan tepat dalam masa tanam agar hal seperti ini tidak terulang lagi dimasa yang akan datang,” pungkas Kosaeri.

Sementara Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Wawan, menyebutkan gagal panen lokal tersebut bukan dikarenakan virus dan juga bukan salah benih. “Itu dari WBC (Woreng Batang Coklat),” kata Wawan lagi.

Disinggung benih Cihearang atau Mikongga umur 20 tahun bisa terjadi juga, Wawan menjawab ekulasi biotic wereng tersebut mencapai 1 sampai 5. Pasalnya petani yang biasanya selalu menggunakan obat berdosis tinggi.

“Sedangkan hama itu tidak bisa mati semua karena ada kekebalan, maka terjadi WBC yang bersarang di sisa-sisa batang padi. Petani harus bersihkan lahan dan pembibitan, penyemprotan 4 kali minimal. Penyuluh kurang dan tidak sampai ke masyarakat karena tenaga penyuluh kurang,” tandasnya.

 

Reporter : Ujang/Suh

Foto : dok/DJP/UJ/Suh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *